Post edited 11:44 am – February 3, 2012 by Chris Manda
Fiction
by: Chrismanda
PROLOQUE:
Seorang pria duduk termenung. Sesekali diliriknya sebuah buku tebal diatas tumpukan ‘sampah’ disampingnya. “Fiction” begitulah judul dari buku tersebut. Judulnya tertulis indah, direnda hingga membentuk tulisan timbul berwarna keemasan diatas cover yang terbuat dari kulit sapi. Tampak sobekan atau warna kekuningan pada tiap lembar dari buku tersebut, menyiratkan usia buku itu yang cukup tua.
Perlahan pria itu menegakkan tubuhnya dari sandaran kursi, sembari mendesah panjang. Dia mengambil buku lain yang berada tepat disamping Fiction berada, sebuah jurnal kecil yang dibolak-balik dengan malas oleh pria tersebut, sekilas terlihat judul jurnal itu betuliskan “Milik Adrian” hingga dia berhenti pada salah satu halaman yang berisi:
“ 2011.01.01
Malam yang sunyi diawal tahun. Aku tak tahu, sudah berapa kali aku melewatinya sendirian. Terdengar bunyi lonceng dari kejauhan dan suara arak-arakan yang bersuka cita, bercampur dengan suara petasan. Suasana itu mengingatkanku pada suatu saat yang kualami dahulu kala. Saat-saat yang penuh cinta dan gelora.
Bagaimana ya menggambarkannya?
Baiklah, ehm… malam itu, tepatnya sebulan yang lalu .
Bulan tampak menghilang oleh awan hitam. Masih segar dalam ingatanku, dirimu yang berdiri dibalik pintu rumaku. Mengenakan jas wol khaki yang senada dengan rambut panjangnya yang berwarna kecoklatan. Saat itu, aku tak sengaja membuka pintu rumah yang sekaligus membuka pintu hatiku. Membiarkanmu datang dalam kehidupanku.
Entah kenapa, dalam sekejap kita bias begitu dekat, entah kau yang begitu lihai mendekati pria bujang sepertiku atau aku yang terlalu lama dalam kesendirian. Kita berbicara begitu santai seolah kawan lama yang baru bersua kembali. Lama hening ditemani suara televisi dan aroma Jhonny Walker yang menyerbak diseluruh penjuru ruang tamuku yang kecil. Tiba-tiba kau berkata, “Aku, kedinginan….Adrian”. Namaku kau sebut dengan mesra dan disaat yang sama kau meruntuhkan pertahanan diriku.
Kita melakukannya dengan bibirmu yang lembut dan basah. Dalam sekejap kita bercumbu dalam pelukan, saling berpagut erat satu sama lain…
Sekejap kemudian, kau telah melepas semua yang melekat diantara kita, hingga tidak selembar kain pun sebagai batas. Kau rebahkan dadamu yang ranum, menindihku di sofa. Begitu kuatnya pesona sehingga seolah semuanya terasa indah dipelukanmu. Tubuhmu yang mulus, rambut panjang yang menutupi buah dadamu dan putting kemerahan itu. Kau benar-benar sudah menyihirku masuk kedalam duniamu.
Semalaman kita menjadi satu, penuh keringat dan bermandikan tawa bahagia.
Saat itu, aku tak ingin lepas, terus memeluk dibawah selimut hangat dengan harapan bisa mencengah dirimu lepas dariku. Tapi, keesokan harinya kau pergi meninggalkanku – begitu mudahnya kah? Semudah kau masuk dalam hatiku…..
Kulihat secarik kertas diatas buku tua yang kau bawa. Apakah benda itu kau tinggalkan sebagai pengganti dirimu? Tidak! Benda mati itu bahkan tidak ada seujung rambut jika dibandingkan denganmu….
Tapi kubaca, karena aku menghargaimu, aku membaca memo singkatmu yang bertuliskan
“Terima kasih Adrian, kehangatan yang kauberikan kemarin sungguh nikmat.
Tapi aku harus pergi dan perlu diingat, aku tidak pernah menerima ‘apapun’ dengan gratis
Jadi kutinggalkan benda berhargaku yang tak ada duanya didunia.
Semoga itu bisa membantumu suatu saat nanti.
Alice”
Setelah membaca memo mu, aku segera tersadar akan kebodohanku. Aku bahkan baru tahu nama mu dari memo itu. Kau memang asing bagiku dan terasa aneh seolah sudah diskenario tuhan seperti ini – kau merangsek masuk kedalam cintaku, menggenjotku habis-habisan kemudian meninggalkanku seolah aku sampah yang tak ada harganya.
Ya, aku memang sampah! Apa yang aku punya? Besar kepala – lah aku jika berpikir dirimu adalah milik ku. Mungkin naku hanya selingan singkatmu.
Aku, aku sungguh tidak tahu siapa kau?, Apa tujuanmu? Dirumah kecilku ini kau mengukir kenangan yang terpatri kuat dalam jalan hidupku. Mulai sekarang aku akan mencoba melupakanmu…
Ya…mungkin itu yang terbaik untuk saat ini”
Adrian menutup jurnalnya, kesedihan masih terasa didalam hatinya, jauh…. Padahal sudah setengah tahun berlalu semenjak wanita misterius itu pergi meninggalkan Adrian.perjalan yang begitu singkat hingga nyaris tak bisa kaubedakan dengan mimpi.
Dia menggelengkan kepala, mendesah kemudian mengais rokok dari tumpukan majalah dan sampah di meja dekat tempatnya duduk. Dinyalakan punting yang nyaris habis itu. Dihisapnya kemudian asap putih keluar melewati lubang hidungnya. Inilah hidup Adrian, begitu hancur dan tak terselamatkan bahkan oleh tuhan. Mungkin baginya entitas tertinggi itu sudah tak ada lagi dalam ingatannya.
Pria itu tertatih menyebrangi ruang tengahnya, sesekali tersandung dan membuat isi mejanya berserakan ke bawah lantai. Hingga sampai didepan pintu toilet, sembari masuk dimatikannya punting tadi kemudian diletakkan didekat wastafel. Siapa tahu dia masih membutuhkannya. Cuci muka, menyikat gigi dan menata rambut, biasanya Adrian akan segera berlalu setelah menyelesaikan ritual singkatnya. Tapi tidak hari ini, entah kenapa dia merasa berbeda, ditatapnya cermin besar dihadapannya. Cermin kusam yang tidak pernah dibersihkan sehingga hanya bisa memantulkan sebagian tubuh Adrian. Ssok menyedihkan yang menatap Adrian begitu memuakkan baginya. Sosok itu bertelanjang dada, menampakkan kulit sawo matang yang cukup berisi, tangan ramping menyusuri rambut bergelombangnya yang berwarna merah kecoklatan, rambut itu sudah mulai menutupi mata sebelah kiri sehingga bharus disibakan agar bisa melihat secara jelas wajahnya saat ini.
Dikaca terpantul wajah tirus yang dihiasi hidung mancung dan dua buah mata hitam masing-masing memiliki kantung mata hitam dibawahnya. Janggut pendek tampak tak beraturan tapi semakin menambah kesan seksi dari diri Adrian.
‘Tidak jelek’ bisiknya pada tampilan dicermin. Segera ditinggalkannya tempat itu. Bergegas mengambil setelan kesayangannya, ; sebuah t-shirt putih dengan logo rollingstone, sebuah jeans hitam yang tampak sobek dibagian bawah dan lututnya serta sebuah jas senada dengan bulu-bulu disekitar kerahnya. “Sempurna” seru Adrian melihat tampilan diriny setelah mengenakan setelan tersebut. “Hm….ada yang kurang..” lanjutnya sembari mencari-mencari di seluruh tubuhnya kekurangan yang dilihatnya hingga dia mengambil sebuah karet gelang dan menguncir rambutnya kebelakang menampakan wajahnya secara jelas.
“Lebih baik” sembari mengambil bekas punting tadi, Adrian segera keluar dari rumahnya yang sempit dan kotor. Dinaikinya Honda GL 100 tahun 80’an miliknya, kemudian digasnya hingga terdengar suara bising dari pipa knalpot .‘Menuju club terdekat’ biisknya samar-samar diantara kepulan asap rokok yang bercampur asap knalpot. ‘Malam ini akan kuhapus sepenuhnya ingatanku denganmu Alice…’ lanjutnya dalam hati.
Melewati malam yang dingin, menembus kesunyian kota Ngawi yang tampak sendu. Daun-daun yang gugur berterbangan diterpa angin motor seolah menyambut Adrian keluar dari masa kelamnya. Malam ini adalah tahun baru bagi Adrian dan hidupnya.
Club Inferno – begitulah kata-kata yang tertulis di papan yang berkelap-kelip memancarkan warna yang semarak. Music House terdengar kencang dari balik bangunan bertingkat dua itu. Suara yang kencang menggetarkan dinding dari batu bata merah dan jendela-jendela yang terpasang dekat pintu seolah mengundang orang-orang untuk memasuki tempat tersebut. Di sepanjang bahu jalan tampak berjejeran para wanita dan pria yang mengenakan baju meriah dengan parfum-parfum yang menyebarkan harum beraneka ragam ke penjuru jalan, sudah jadi rahasia umum, bahwa kumpulan orang itu adalah para pekerja seks komersial yang saling memamerkan barang ‘dagangan’ masing-masing.
Tapi itu tidak penting lagi, karena sekarang yang menjadi pusat perhatian di jalan Ahmad Yani tersebut adalah suara kencang deru mesin GL 100 milik Adrian- yang tidak terkontrol bisingnya. Semua mata menatap Adrian sembari bertanya dalam hati ‘ siapa berandalan yang merusak suasana tenang ini?’. Tanpa terpengaruh oleh aura intimidasi orang-orang, Adrian melenggang santai setelah memakirkan sepeda moptornya didepan club. Rambut bergelombangnya berkibar diterpa angin malam – kurang dramatis?, Bagaimana kalau ditambah kepulan asap rokok yang semakin menambah kesan keren dari Adrian. Tampak beberapa wanita mendekap mulutnya, menahan teriakan kagum dan para gay bersiul memanggil Adrian, setengah berharap pria itu menoleh sedikit kearah mereka.
Saat Adrian sampai didepan pintu masuk. Dua orang pria gempal menghalanginya dan menatap Adrian tajam, mengintimidasi Adrian dengan sosok mereka yang besar. Adrian bergeming menatap kedua orang itu tanpa ekspresi, pria pertama, albino berwajah kotak dengan hidung melesak ke dalam wajahnya ditambah kepala botak bersih nyaris membuat orang salah mengira dia gargoyle, pria kedua, seorang berkulit sawo matang dengan rambut Mohawk dan mata melototnya- nyaris keluar.
“Bung, bisa pinggirkan motormu…?” ucap albino yang mendekat dan menempelkan wajahnya ke wajah Adrian hingga hidungnya nyaris menempel dengan hidung Adrian. Namun Adrian tetap diam, dia malah menguap bosan, membuat kedua orang itu naik pitam kemudian berteriak setelah mengumpat keras.
“Hei! Kami bilang pindahkan motor rongsokanmu, atau kubongkar lalu kumasukan knalpotnya kelubang pantatmu!” tiba-tiba, sepucuk pistol terbidik tepat di wajah pria sawo matang itu. Mata Adrian balik menatap orang itu dan menarik pelatuk pistolnya – siap ditembak kan kapan saja. Pria sawo matang tadi terkesiap, dia nyaris tak berkata-kata, hanya desisan yang keular sebagai ganti kata yang ingin diucapkan. Melihat hal itu, si albino segera berkata dengan terbaata-bata, mencoba menenangkan Adrian dan kawannya.
“Haha….ti, tidak mungkin ada pistol asli di kota ini…kota kecil sepeti ngawi?, mustahil!”
Adrian berbisik pelan seraya menekan pistolnya kemulut pria sawo matang di hadapannya.
“Kalau begitu, buktikanlah dengan kepala kawanmu ini…”
“Bah, kalau mau tembak- tembak saja!” balas si albino tak kalah sengit, tapi si sawo matang menggelengkan kepalanya yang berkeringat, berusaha meneriakkan penolakannya.
Para pejalan yang melihat hanya bisa menahan nafas, terdiam menyaksikan kejadian itu. Adrian menatap pria yang ditodongnya, menimbang apa yang mungkin terjadi kalau-kalau dia meleng dan meledakkan kepala orang itu. Hinga tib-tiba muncul seorang wanita dari dalam club. Wanita itu kirqa-kira seumur dengan Adrian- sekitar awal 20-an, tubuhnya sintal, terlihat jelas lekuknya dibalut terusan pendek yang ketat berwarna hitam. Tak lupa sebuah syal merah berumbai melingkar disekitar lehernya. Wajah cantik wanita itu mempesona seluruh orang disana, ditambah mata birunya yang serasi dengan rmabut bob pirang pendeknya. Memancarkan rasa tenang pada ketiga orang yang sedang bersitegang itu.
Wanita itu mendekat pada Adrian. Mengalungkan lengannya sembari menempelkan dada montoknya ke tubuh Adrian. “ Jagoan, jauhkanlah benda itu….aku lebih suka dengan yang lebih besar…” ujarnya dengan nada merayu, tangannya yang lain merab-raba Adrian, mendekat kea rah vitalnya tapi Adrian merasa risih dan menjauhkan tubuhnya.
“Apa mau…” ucapannya dihentikan oleh jari lentik wanita itu, kepalanya meneleng kea rah club – menandakan Adrian untuk masuk kedalam club itu, menyudahi konflik yang tidak penting ini. Selain itu, aroma parfum wanita itu yang berupa mawar hitam dan patchouli membangkitkan gairah adiran. Dengan enggan dia menurunkan pistol itu, wanita tersebut segera mengayunkan tangannya, member tanda menyingkir pada pria-pria tadi. Si albino masih ingin protes sampai perkataanya dipotong Adrian.
“Jangan mengganggu ku lagi, urus-urusanmu atau…” Adrian menekan pistolnya ke kepalanya dan bibirnya bergerak mengucap “BANG” tanpa bersuara membuat albino itu pergi bersama kawannya menuju gang yang gelap. Setelah melihat pira-pira itu pergi, wanita itu merangkul Adrian dan berkata.
“Kau memang aktor nomor satu….aku heran kau tidak dapat piala grammy”
“Grammy itu bukan penghargaan untuk aktor….lagipula aku tidak berakting apapun…” senyum nakal muncul diwajah wanita itu saat melihat ekspresi Adrian yang berpura-pura tidak tahu
“ya, akting tadi…aku tidak cukup bodoh untuk terpedaya tipuanmu…” lanjut wanita itu sembari menunjuk benda digenggaman Adrian “ itu pistol palsu kan? Yah…walau aku juga meragukan “pistol” yang bawah juga asli…”
“Kedua-duanya asli! Jangan mengada-ada”
“Masih gigih ya?, cowok keras kepala….kalau begitu” tiba-tiba rangkulan wanita itu terlepas dan dengan gesit tangannya menyambar pistol ditangan Adrian “Bisa kita coba…” matanya nyalang melihat tubuh Adrian dan akhirnya tertuju…”Pada burung kecilmu dulu?”:
Mendengar itu, Adrian nyaris tertawa, tangannya terangkat seolah dia tertangkap polisi.
“Baiklah, baiklah, kau menang….ayo masuk dan kita lihat apa yang bisa kubleikan untukmu didalam club…”
“Nah, begitu dong dari tadi…” tangannya menekan pelatuk dan keluar bendera berbagai Negara yang terikat pada satu tali dari moncong pistol tersebut, alih-alih ledakan timah panas “Aku rasa dua gelas bourbon cukup untuk malam ini…” lanjut wanita itu seraya membaung mainan ditangannya ke tong sampah.
“as you wish…” balas Adrian sembari menatap lesu pada dompetnya.
Perlahan mereka berdua masuk kedalam club, yang meraung tak sabar untuk menyambut Adrian dan wanita itu……..